Batik Durian Lubuklinggau, dengan motif durian yang unik, telah menjadi ciri khas kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, dan bahkan terkenal hingga ke panggung fashion dunia. Berikut kisah sukses di balik batik dengan motif buah durian yang menarik perhatian.
Batik Durian Lubuklinggau (ANTARA/Pamela Sakina)

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Yetti Oktarina, berbagi kisah menarik mengenai Batik Durian, yang kini menjadi ciri khas kota Lubuklinggau, yang terletak di ujung barat provinsi Sumatera Selatan. Motif unik dari kain batik ini menggambarkan buah durian, yang juga merupakan buah andalan dari daerah tersebut.

"Kita memiliki salah satu durian yang paling enak, kalau tidak percaya, datang langsung ke mari," ujar Yetti sambil tersenyum.

Durian, dikenal sebagai "King of Fruits" atau Raja Buah, sangat populer di kalangan masyarakat lokal Sumatera. Bentuk unik dan rasa yang lezat membuatnya menarik perhatian besar, terutama ketika diadaptasi menjadi motif Batik. Batik Durian Lubuklinggau sekarang telah dikenal hingga di kalangan pecinta fashion di seluruh dunia.

Ide untuk menciptakan Batik Durian muncul sekitar satu dekade yang lalu, tepatnya pada tahun 2013, ketika Yetti sedang mencari sesuatu yang bisa menjadi ciri khas dan ikon dari kota Lubuklinggau.

"Ini muncul karena Lubuklinggau sebelumnya tidak memiliki ciri khas khusus, sementara menurut saya, sebuah kota atau kabupaten harus punya ciri khas yang menjadi kebanggaan, atau sesuatu yang akan dicari orang ketika datang ke tempat kita," kata Yetti.

Yetti menjelaskan bahwa Lubuklinggau dikenal sebagai "Kota Transit" karena terletak di persimpangan jalan lintas tengah Sumatera. Awalnya, kota ini dikenal dengan sektor jasa sebagai salah satu penyokong ekonomi terbesarnya.

Karena alasan ini, Lubuklinggau tidak memiliki sesuatu yang bisa menjadi ciri khasnya. Oleh karena itu, Yetti memutuskan untuk menggunakan durian sebagai motif utama Batik Lubuklinggau.

"Saya tidak mau terperangkap pada yang namanya filosofi khusus, karena saya pikir Lubuklinggau adalah kota baru, kota yang baru dibekalkan, jadi, kain kita pun bisa jadi kain yang baru, tanpa harus terjebak dengan filosofi khusus," tambahnya.

Tahun demi tahun berlalu, dari awalnya tidak ada pengrajin kain di sana, kini sudah ada lebih dari 350 pengrajin lokal, yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga. Mereka menuangkan kreativitas mereka pada Batik Durian Lubuklinggau. Saat ini, ada ratusan desain berbeda yang mengusung motif durian pada Batik tersebut.

Meskipun berumur hanya 10 tahun, Batik yang sarat dengan warna-warna cerah ini sangat digemari oleh berbagai kalangan. Popularitasnya tumbuh pesat hingga mencapai panggung fashion dunia.

Batik Durian Lubuklinggau bahkan berhasil menjadi sorotan di Milan Fashion Week 2021 dan 2022 di Milan, Italia. Di ajang fashion bergengsi itu, merek busana lokal, JYK, menggunakan Batik Durian sebagai koleksi bertema "Revolutionary Hope" bergaya punk untuk menarik perhatian generasi muda.

"Sejak selesai Milan Fashion Week, pesanan melonjak hingga lebih dari 1.500 lembar, tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari masyarakat dunia yang menyukainya," ungkap Yetti.

Batik Durian Lubuklinggau telah membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi bisa membuat kain tradisional menjadi daya tarik global yang sangat diminati. Kisah sukses ini mengilhami banyak orang untuk mencari dan mengembangkan ciri khas daerah mereka sendiri.(*)

Sumber: Antara



Petualang digital yang hobi menikmati kopi nusantara. Pemain game FPS dan Moba yang terjerumus dalam dunia pencatatan sejarah.

What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!