Kamu sedang dalam hubungan romantis dengan seseorang? Yuk kenali tanda-tanda perilaku manipulatif yang harus dihindari!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), manipulasi diartikan sebagai upaya kelompok atau perseorangan untuk mempengaruhi perilaku, sikap, dan pendapat orang lain tanpa orang tersebut menyadarinya. Hal ini dikaji lebih rinci dalam ilmu psikologi sebagai upaya untuk mengendalikan situasi atau perilaku orang lain.

Meskipun tak sedikit orang yang meremehkan manipulasi psikologis, hal ini bisa berakibat serius apabila perilaku manipulasi sudah terjadi. Apalagi dalam suatu hubungan, pasangan akan dituntut untuk percaya satu sama lain. Hingga satu diantaranya tak menyadari ada hal yang salah dalam hubungan yang sedang dijalani. Karenanya, yuk mulai pelajari macam-macam manipulasi psikologis yang kerap terjadi!

1. Love Bombing

Memiliki pasangan yang romantis adalah hal yang diidam-idamkan setiap orang. Tak hanya kata-kata, perhatian dan kasih sayang yang terus ditunjukkan membuat pasangan akan merasa dihargai dan dicintai. Namun seperti yang kita tahu, tak baik rasanya apabila hal tersebut dilakukan secara berlebihan. Bisa saja itu adalah salah satu bentuk love bombing yang diberikan pasangan kepada kamu.

Love bombing sendiri merupakan bentuk manipulasi emosional yang dilakukan untuk mendapatkan kontrol atau kepercayaan sepenuhnya atas diri seseorang. Contoh seseorang melakukan love bombing diantaranya memberikan pujian yang berlebihan, tak berhenti mengirimkan pesan atau menelpon, cenderung memaksa pasangan untuk selalu fokus kepadanya, hingga melangkahi batasan yang telah dibuat oleh pasangan. 

2. Guilt Tripping

Guilt Trip adalah salah satu bentuk manipulasi psikologis dalam hubungan yang perlu dihindari. Pernahkah kamu merasa bersalah atas kata-kata yang diucapkan seseorang? Hal ini bisa masuk ke dalam kategori guilt tripping, lho!

Tak perlu risau, kamu bisa menghindari hal ini dengan memahami ciri-ciri perilaku guilt trip. Biasanya orang yang melakukan guilt trip akan mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan pasangan di masa lalu, melempar komentar sarkas, hingga membuat korbannya merasa hutang budi terhadap si pelaku. Karenanya, tak heran jika akan mengganggu kesehatan mental korban.  

3. Silent Treatment

Pernahkah pasanganmu memilih untuk diam daripada menyelesaikan masalah yang sedang terjadi dalam hubungan? Hati-hati, bisa saja ia sedang melakukan silent treatment. Seperti yang kita tahu, komunikasi adalah kunci dalam suatu hubungan. Jika kuncinya sudah rusak, maka begitu pula dengan hal di dalamnya.

Dilansir dari klikdokter, menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, silent treatment dapat terjadi karena seseorang tidak tahu bagaimana cara untuk mengomunikasikan masalah. Silent treatment juga bisa diartikan sebagai bentuk hukuman, hal ini diperuntukkan agar orang lain memikirkan perasaan si pelaku. Biasanya, korban akan merasa bersalah karena menganggap “diamnya” pasangan adalah bentuk amarah. 

Meskipun terdengar remeh, perilaku manipulasi psikologis ini bisa jadi awal mula rusaknya suatu hubungan. Yuk mulai kenali lebih dalam tentang pasanganmu. Jika sudah terjadi, coba lakukan beberapa cara berikut. Pertama, buat boundaries atau batasan, kedua, jangan toleransi sikap manipulatif dalam bentuk apapun, dan yang paling penting, cari pertolongan ke orang terdekat atau profesional. 



What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!