Belakangan ini di publik sedang ramai perbincangan tentang virus Antraks. Antarks sendiri merupakan sebuah bakteri dengan nama ilmiah Bacillus Anthracis.
Ilustrasi, Bakteri Antraks tengah ramai diperbincangkan warganet. (Foto: kompas/google)

Kejadian menyebarnya bakteri Antraks yang menjangkiti manusia ini tengah menyerang puluhan warga di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Melansir Suara Surabaya, salah satu warga yang terjangkiti, WP (72), dinyatakan meninggal setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sardjito, Yogyakarta, pada Minggu (4/6/2023) lalu.

Sebelumnya, saat WP jatuh sakit, ia langsung dilarikan ke Rumah Sakit Pati Rahayu. Kemudian pasien dirujuk ke RSUP Sardjito.

Keluhan yang dirasakannya seperti gatal, bengkak, dan luka yang spesifik dengan Antraks jenis kulit.

WP dirujuk ke RSUP Sardjito untuk pengambilan sampel darah dengan diagnosis suspek antraks pada Senin (3/6/2023).

Melansir dari sumber yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Imran Pambudi, mengatakan, terjadinya antraks ditandai lima kali rangkaian peristiwa kematian hewan ternak di lokasi setempat. Dalam kurun Mei hingga awal Juni 2023, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/7/2023).

“Kronologi diawali kasus kematian sapi milik salah satu warga berinisial KR pada 18 Mei 2023, lalu disembelih dan dibagikan ke warga untuk dikonsumsi. Ini jadi salah satu penyebab penyebaran kasus,” ungkapnya, melansir dari Suara Surabaya.

Bahaya, Gejala, dan Penyebab Bakteri Antraks Menular

Bahaya, Gejala, dan Penyebab Bakteri Antraks Menular Ilustrasi, Penyebab menular dan bahaya Antraks bagi manusia. (Foto: katadata/google)

Melansir CNN Indonesia, kasus penyebaran Antraks ini disinyalir akibat dari tradisi Bradu di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Tradisi Bradu atau Purak merupakan pemotongan sapi atau kambing yang sedang sakit atau meninggal karena sakit. Kemudian, dagingnya diperjualbelikan kepada masyarakat sekitar dengan harga yang miring.

Tim peneliti dari Balai Besar Veteriner Wates dan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, menyebutkan bahwa masyarakat pada dasarnya mengetahui akan bahaya dari konsumsi hewan sakit dan mati karena sakit. 

Namun, sayangnya mereka dibutakan oleh standar harga daging murah. 

"Tradisi memotong/menyembelih ternak yang kedapatan mati mendadak oleh peternak pedesaan di negara berkembang (termasuk di Indonesia) sulit dihilangkan, mengingat pada umumnya ternak tidak disembelih di tempat pemotongan resmi (rumah pemotongan hewan)," tulis peneliti, melansir CNN Indonesia.

Berjalan dan semakin maraknya tradisi ini dilakukan masyarakat adalah sosial-ekonomi sebagai faktor utamanya. 

Para peternak sapi atau kambing melakukan kegiatan penyembelihan hewan, sebab sakit atau mati karena sakit ini untuk mempertahankan nilai ekonomi dari ternaknya.

Sedangkan bagi masyarakat, tradisi ini dianggap sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap tetangganya yang mengalami musibah.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan, Syamsul Ma'arif, menjelaskan, pembelian daging hewan ini bwetujuan menghibur pemilik ternak yang kehilangan hewan ternaknya.

Meski niatnya baik bagi peternak, justru membawa petaka bagi warga yang mengonsumsi. Sifat bakteri penyebab antraks, Bacillus anthracis, akan membentuk spora saat terpapar udara terbuka. 

"Bisa enggak itu direbus dan aman dikonsumsi? Tidak boleh. Dibuka (dibedah) saja tidak boleh," kata Syamsul, mengutip CNN Indonesia.

Bakteri Antraks dapat menular ke manusia melalui luka pada kulit, usai bersentuhan dengan hewan yang terjangkiti. Atau menghirup spora dan memakan dagingnya.

Melansir Okezone dari Department of Health New York State, memakan daging yang terinfeksi antraks dan memasaknya masih kurang matang, akan menimbulkan gejala pada pencernaan. Gejala yang timbul di antaranya seperti sakit perut luar biasa, demam, buang air besar berair, diare berdarah, muntah darah.

Untuk sentuhan, biasanya adanya kontak langsung antara tubuh manusia dengan tulang, wol, sampai kulit hewan. Dan akan menularkan kepada manusia melalui luka atau goresan pada kulit.

Gejala lain yang ditimbulkan akibat penyebaran Antraks manusia, dapat menimbulkan efek gatal pada kulit. Kemudian memunculkan bisul besar dan menjadi koreng yang menghitam.

Apabila tidak segera ditangani, infeksi akan menyebar luas ke kelenjar getah bening hingga aliran darah.

Bahkan menghirup spora yang tumbuh di tubuh hewan sakit ini dapat menjangkiti manusia. 

Orang yang tertular Antraks melalui hirupan udara, gejala pertama akan merasakan demam, kelelahan, malaise, batuk, hingga nyeri pada dada. 

Kemudian akan terserang demam tinggi, denyut nadi cepat, dan kesulitan bernapas yang parah dalam dua hingga lima hari. (*)



Orang biasa yang sedang biasa-biasa saja

What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!