Mengenal Toxic Productivity

Kamu pernah menghabiskan harimu untuk berada di depan laptop dan berpikir bahwa itu hal yang “produktif”? Atau kamu pernah memaksakan dirimu untuk tetap bekerja dan menunda kegiatan bersama keluarga, teman, bahkan menunda makan? Jika iya, mungkin kamu sudah memasuki fase toxic productivity. Yuk kenali lebih lanjut apa itu toxic productivity!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produktif berarti sifat mampu menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar. Beberapa orang mungkin akan memaknainya dengan seseorang yang punya kesibukan secara terus-menerus. Tetapi kita semua tahu, segala yang berlebihan adalah hal yang tidak baik.

Bekerja terus-menerus dan beranggapan bahwa diri ini sedang produktif tanpa mengingat waktu bisa membuat kesehatan perlahan-lahan akan menurun. Namun, pola seperti ini telah menjadi makanan sehari-hari bagi para pekerja. Karenanya, diperlukan untuk mengenal apa itu toxic productivity dan bagaimana cara mengatasinya.

Apa Itu Toxic Productivity?

Dilansir dari cimsa.or.id, menurut Dr. Julie Smith yang merupakan psikolog klinis dari Hampshire, Inggris, toxic productivity adalah sebuah obsesi untuk mengembangkan diri dan merasa selalu bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal. Parahnya, toxic productivity yang sudah melekat pada seseorang bisa berakibat buruk. Mereka kerap kali merasa bersalah apabila gagal mengerjakan sesuatu atau tidak bisa melakukan hal produktif secara terus-menerus. 

Ciri-ciri Toxic Productivity

  1. Sulit merasa puas. Seorang yang sudah masuk ke tahap toxic productivity tidak akan cepat puas terhadap apa yang diperoleh. Ingin terus berprogres memang hal yang baik, tetapi jika dilakukan berlebihan akan menyebabkan banyak efek negatif. 
  2. Tetap bekerja saat sudah mengalami burnout. Burnout sejatinya merupakan keadaan stres yang meliputi kesehatan, fisik, maupun emosi. Seorang yang mengalami burnout akan merasa lelah karena kekurangan energi, sehingga pekerjaan yang dilakukan pun tidak akan maksimal.
  3. Tidak suka istirahat. Meskipun produktif adalah kegiatan positif, istirahat juga merupakan satu proses yang dibutuhkan tiap manusia. Dilansir dari upk.kemkes.go.id, usia 18 – 40 tahun atau dewasa membutuhkan waktu tidur 7-8 jam setiap hari. Seorang yang sudah mengidap toxic productivity seringkali menganggap tidur adalah kegiatan yang membuang-buang waktu, hingga akhirnya istirahat pun dilewati begitu saja.

     

Cara Menghindari Toxic Productivity

  • Buat jadwal secara seimbang. Saat mengatur jadwal, istirahat dan olahraga merupakan dua hal yang harus diikutsertakan.
  • Self reward. Salah satu bentuk kasih sayang kepada diri sendiri adalah self reward. Tidak harus berupa suatu hal yang mewah, bepergian ke pantai atau bersantai bersama keluarga bisa dijadikan opsi self reward.
  • Beri batasan yang jelas dalam pekerjaan. Boundaries merupakan salah satu hal sakral untuk menghindari toxic productivity. Dengan menerapkan batasan, seorang tidak mungkin mengerjakan semua hal dalam satu waktu. Melainkan satu persatu sesuai dengan porsinya masing-masing.

     

Sekali lagi, produktif merupakan hal yang positif. Tetapi menjaga fisik dan mental untuk tetap terjaga merupakan kewajiban kita terhadap diri sendiri. Tak apa jika kamu sesekali merasa tertinggal dengan orang lain, tetapi bukan berarti kamu harus mengejarnya tanpa tahu kapasitas diri. Memaksa diri sendiri untuk terus bekerja saat badan susah tidak sanggup justru memberi dampak yang besar pada kesehatan. (*)

Ilustrasi Toxic Productivity (Sumber: freepik.com) 



What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!