Kisah Ancika dan Dilan tak lepas dari latar belakang era 90-an. Film ini membawa penonton bernostalgia dengan budaya dan semangat zaman itu. Soundtrack ikonik dari era tersebut turut menguatkan atmosfer nostalgia dan membawa penonton kembali ke Bandung tahun 1995.

Indonesia di tahun 1995. Demam Dilan telah mereda, meninggalkan kenangan manis bagi Milea dan para penonton. Namun, kisah romantis di Kota Bandung belum usai. Layar lebar kembali dihiasi oleh sosok Dilan, kali ini bukan lagi bersama sang pujaan hati, melainkan bertemu dengan sosok baru yang tak kalah unik, Ancika.

Ancika bukan Milea. Jauh dari kesan feminin dan romantis, ia gadis tomboy, tegas, dan tak segan melawan ketidakadilan. Prinsip hidupnya teguh, bahkan ia antipati dengan para anggota geng motor, termasuk Dilan, sang mantan ketua geng yang terkenal di masa lalu.

Disinilah daya tarik utama "Ancika 1995" berakar. Film ini bukan sekadar drama romansa biasa, melainkan tentang pertemuan dua insan dengan karakter bertolak belakang. Dilan, dengan jejak masa lalunya, harus berhadapan dengan tembok kokoh penolakan Ancika. Ia tidak lagi bisa memikat hati dengan puisi manis seperti dulu. Di mata Ancika, ia harus membuktikan diri lebih dari sekadar pesona masa lalu.

Perjuangan Dilan merebut hati Ancika menjadi benang merah cerita. Perlahan, ia menunjukkan perubahan. Kesombongan masa lalu memudar, digantikan oleh sikap dewasa dan perhatian. Ia berusaha memahami dunia Ancika, mendukung mimpinya, dan membuktikan diri pantas menjadi pendamping yang baik.

Ancika pun bukan gadis beku. Meski keras kepala, ia memiliki hati yang mudah tersentuh oleh ketulusan. Seiring interaksi dengan Dilan, pertahanannya perlahan retak. Humor Dilan yang khas, perhatiannya yang tulus, dan kesungguhannya membuktikan diri, mampu membuat Ancika membuka sedikit demi sedikit ruang di hatinya.

"Ancika 1995" bukanlah sekadar kisah cinta. Di dalamnya terjalin benang persahabatan dan keluarga yang kental. Geng motor Dilan dulu, kini menjelma menjadi sahabat-sahabat yang selalu mendukung. Ada Akew, si penghibur, Bima yang bijaksana, dan Rani, sahabat perempuan Ancika yang menjadi tempat curhat. Kehadiran mereka menambah kelucuan dan kehangatan dalam film.

Kisah Ancika dan Dilan tak lepas dari latar belakang era 90-an. Film ini membawa penonton bernostalgia dengan budaya dan semangat zaman itu. Soundtrack ikonik dari era tersebut turut menguatkan atmosfer nostalgia dan membawa penonton kembali ke Bandung tahun 1995.

"Ancika 1995" juga tak melupakan pesan moral. Ia mengajak penonton untuk belajar dari perjuangan meraih mimpi, pentingnya keluarga dan persahabatan, serta makna perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dengan durasi 120 menit, "Ancika 1995" menyuguhkan drama manis yang memikat. Akting Zara JKT48 sebagai Ancika dan Arbani Yasiz sebagai Dilan terasa natural dan mampu membawa penonton merasakan emosi para karakter. Sutradara Benni Setiawan berhasil meramu elemen romansa, humor, dan nostalgia dengan apik, membuat film ini terasa segar dan menghibur.

Bagi penggemar kisah Dilan dan Milea, "Ancika 1995" menawarkan kelanjutan yang tak terduga. Kisah cinta yang berbeda, dengan karakter unik dan latar belakang menarik, menjadikan film ini layak ditonton. Penonton yang lebih umum pun, terutama penikmat drama romansa dengan balutan nostalgia era 90-an, pasti akan terhibur dan tersentuh oleh jalinan cerita Ancika dan Dilan.(*)



Petualang digital yang hobi menikmati kopi nusantara. Pemain game FPS dan Moba yang terjerumus dalam dunia pencatatan sejarah.

What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!