Asian Football Confederation (AFC) resmi memberikan sejumlah sanksi dan denda kepada Timnas Indonesia dan Thailand U-22. Berikut ulasan mengenai penjelasan pasal kode disiplin dan etik.
Federasi Sepak Bola Asia (AFC) (Foto: bola.com)

Buntut keributan di partai final cabang olahraga (cabor) sepak bola SEA Games, di Stadion Olimpiade, Phnom Phenh, Kamboja, pada 16 Mei 2023 lalu, Komisi Disiplin (Komdis) Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memberikan sejumlah sanksi.

Keputusan terkait pelanggaran kode etik secara resmi disampaikan di laman web resmi AFC.com, pada Rabu (12/7/2023) kemarin.

Laga final itu mempertemukan timnas sepak bola Indonesia dan Thailand. Skor akhir berpihak kepada timnas Indonesia, 5-2. Namun, meski berbuah manis ada harga yang harus dibayar.

Putusan resmi dari Komdis AFC dilayangkan kepada lima pemain, satu asisten pelatih, dan satu ofisial tim Indonesia. Dari ketujuh orang yang dijatuhi sanksi, tak semuanya dikenakan denda. Ada yang hanya diberi larangan untuk berkontribusi bagi tim dalam jangka waktu tertentu.

Di antara yang terkena sanksi dan denda di pihak timnas Indonesia ada Komang Teguh Trisnanda (pemain), Titan Agung Bagus Fawwazi (pemain), Tegar Diokta Andias (ofisial tim), dan Sahari Gultom (pelatih kiper). Oleh Komdis AFC, keempat orang tersebut dinyatakan melanggar kode disiplin dan etik pasal 47 serta dianggap telah melakukan kekerasan fisik yang berujung mendapat kartu merah.

Bentuk sanksi yang diterima keempat orang tersebut berupa larangan berkontribusi sebanyak enam pertandingan, termasuk satu pertandingan yang ia jalani saat skorsing diberikan. Penangguhan sanksi enam larangan pertandingan. Dan akan dijalankan sesuai dengan pasal 38.2.4 kode disiplin dan etik.

Dan denda yang harus dibayar sebesar USD 1.000, jika dikonversikan ke Rupiah sekitar 14 juta. Jumlah denda ini mengacu pada bunyi pasal 48.2 kode disiplin dan etik.

Sedangkan tiga pemain timnas Indonesia U-22 lainnya yang terkena sanksi tanpa denda, yakni Muhammad Taufany Muslihuddin, Ahmad Nizar Caesarea Noor, dan Muhni Toid Sarnadi dinyatakan melanggar kode disiplin dan etik pasal 51. Dan dianggap terlibat dalam kericuhan dengan timnas Thailand.

Bentuk sanksi yang diterima ketiga pemain muda tersebut, yakni berupa pelarangan untuk bermain sebanyak 6 pertandingan. Dan akan dijalankan sesuai pasal 38.2.4 kode disiplin dan etik.

Di pihak Thailand, dikenakan sanksi kepada enam pemain, dua ofisial tim, dan federasi. Yang terkena sanksi serta denda di antaranya ada Soponwit Rakyart (pemain), Prasobchoke Chokemor (pelatih kiper), Pattarawut Wongsriphuek (ofisial tim), dan Mayeid Mad-Adam (ofisial tim). Keempat orang tersebut mendapat jenis sanksi dan denda yang sama dengan pihak Indonesia yang terkena sanksi dan denda. Adapun untuk Federasi Sepak Bola Thailand (FAT), dikenakan denda sebesar USD 10.000 karena melanggar pasal 51 kode disiplin dan etik.

Sedangkan sanksi tanpa denda yang diterima oleh pemain timnas Thailand U-22, yakni Chayapipat Supunpasuch, Purachet Todsanit, Thirapak Prueangna, dan Bamrung Boonprom. Mereka terlibat dalam kericuhan dengan timnas Indonesia. Keempat pemain timnas Thailand ini mendapatkan jenis sanksi tanpa denda yang sama dengan pemain timnas Indonesia yang terkena sanksi tanpa denda.

Seperti Apa Bunyi Kode Disiplin dan Etik Pasal 47, 51, 48.2, dan 38.2.4?

Kericuhan final cabor sepak bola di SEA Games ke-32 Kamboja, berawal sesaat setelah Irfan Jauhari membawa timnas Indonesia U-22 unggul 3-2 atas timnas Thailand U-22 di babak pertama tambahan waktu ekstra.

Hingga turun minum babak kedua, timnas Indonesia berhasil kembali meraih medali emas, cabor sepak bola di SEA Games sejak 1991.

Meski mengharumkan nama bangsa usai kembali berjaya di pentas SEA Games, timnas Indonesia harus menerima beberapa sanksi dari Komdis AFC. Tak terkecuali dari pihak timnas Thailand. Akibat dari kericuhan yang terjadi di final sepak bola SEA Games Kamboja.

Mungkin, masih banyak orang yang bertanya-tanya mengenai bunyi sejumlah pasal yang disebutkan oleh Komdis AFC. Melansir dari laman web AFC.com, berikut ulasannya!

Kericuhan terjadi saat Indonesia memimpin 3-2 atas Thailand di paruh babak pertama tambahan waktu. (Foto: okezone/google)

1. Pasal 47

Serious infringements punishable by an expulsion. (Pelanggaran berat yang dapat dihukum dengan pengusiran)

Jenis pelanggaran pada pasal ini bisa kemudian dikenakan dengan denda pada pasal 48.2. Seperti yang tanggung oleh Komang Teguh Triasnanda.

2. Pasal 51

Brawl. (Perkelahian)

Para pihak atau oknum yang terkena pasal ini biasanya hanya terlibat dalam kerumunan kericuhan atau kontak fisik yang tidak berbahaya dalam perkelahian, seperti mendorong.

3. Pasal 48.2

A fine of at least USD 1.000 shall be imposed in all cases (Denda minimal USD 1.000 akan dikenakan dalam semua kasus)

Jenis denda dari pasal ini dikenakan oleh oknum yang melakukan pelanggaran berat. Yang mana ditandai dengan pengusiran oleh wasit.

4. Pasal 38.2.4

Friendly Matches: shall be carried over to the representative team’s next friendly Match; and. (Pertandingan Persahabatan: akan dibawa ke pertandingan persahabatan berikutnya dari tim perwakilan)

Dari sejumlah enam larangan bertanding atau berkontribusi untuk tim, akan secara otomatis dilanjutkan pada pertandingan persahabatan berikutnya, di segala kompetisi. (*)



Orang biasa yang sedang biasa-biasa saja

What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!