Belum lama ini masyarakat dunia dihebohkan dengan rencana pemerintah Jepang yang hendak membuang limbah nuklir Fukushima ke laut lepas.
Kenampakan industri nuklir di Fukushima, Jepang. (Foto: wikipedia/google)

Selama kurun waktu satu minggu ke belakang, publik diresahkan dengan rencana pemerintah Jepang membuang limbah nuklir Fukushima ke laut lepas.

Terlebih, negara tetangga seperti Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel). Sebab kedua negara ini sangat dekat dengan Fukushima.

Melansir dari Berita Satu, otoritas perikanan Korsel akan terus memantau peningkatan radioaktivitas di wilayah ladang garam mereka, pada Rabu (28/6/2023). Selain itu pemerintah Korsel juga melarang makanan laut dekat perairan Fukushima (Jepang).

Efek Pencemaran Limbah Nuklir

Sebagian besar masyarakat sepakat, bahwa nuklir itu berbahaya. Meski di sisi lain, penemuan hebat ini membantu manusia dalam pelbagai hal, seperti kesehatan.

Tak menampik kenyataan, bahwa dampak yang ditimbulkan dirasa sangat mengerikan. Seperti Kota Chernobyl, yang menjelma kota mati usai meledaknya salah satu reaktor nuklir di sana.

Melansir dari artikel yang dipublikasi di laman web Fakultas Hukum Universitas Medan Area, bahwa limbah radioaktif nuklir akan aktif sampai ribuan tahun mendatang. Dan belum ada solusi konkret yang menjamin keamanan dalam pengolahan limbah nuklir ini.

Meski demikian, salah satu ilmuwan nuklir di University of Manchester, Laura Leay, menjelaskan bahwa limbah yang dihasilkan nuklir tidak seburuk apa yang selama ini diyakini.

Ahli industri nuklir, Laura Leay, Ph. D. (Foto: google)

Melansir dari Sindo News, setidaknya terdapat empat penjelasan dari Laura, yang telah meneliti limbah nuklir selama empat tahun.

Pertama, bahwa limbah nuklir tidaklah menghasilkan sinar berbahaya. Menurut Laura, sinar biru pada reaktor nuklir yang menampung limbah radioaktif bukanlah berasal dari rafioaktif itu sendiri.

Sinar ini berasal dari partikel bermuatan, elektron, yang terpancar dari bahan radioaktif dengan kecepatan tinggi. Air di sekitar memperlambat laju partikel tersebut, dengan menyerap sebagian energi. Kemudian, air tersebut melepaskan energi dalam bentuk cahaya. Sehingga air di sekitar limbah radioaktif tampak bersinar biru.

Kedua, banyak yang mengira bentukan limbah nuklir semacam minyak yang disimpan dalam tong-tong kuning. Sebenarnya, limbah nuklir memiliki banyak bentuk. Dan memang di antaranya mengandung unsur radioaktif, sebab terlapisi oleh partikel radioaktif.

Namun, bahan radioaktif yang sebenarnya berasal dari buangan bahan bakar nuklir. Banyak dari jumlah partikel uranium setelah digunakan pada reaktor nuklir mengalami pembusukan. Sehingga menjelma zat kimia yang sama sekali berbeda.

Meski begitu, sisa bahan bakar ini dapat dilarutkan dalam asam, supaya umsur kikia yang berguna dapat diekstraksi menjadi bahan bakar yang baru. Sisa limbah nuklir lainnya bisa dijadikan kaca padat, sehingga mudah dikelola.

Ketiga, pengolahan limbah nuklir juga akrab dengan penggunaan semen. Cairan semen kemudian dituangkan di sekitar sebaran limbah dan mengubahnya menjadi balok keras nan padat yang tahan radiasi.

Ketika limbah ini dirubah menjadi kaca padat, ada beberapa kriteria yang hatus dipenuhi. Seperti berapa banyal daya yang dilepaskan dari isotop radioaktif.

Bahan bakar nuklir mengandung berbagai unsur radioaktif yang berbeda. Yang mana bisa juga membusuk dengan cepat. Ketika membusuk inilah terlepasnya banyal energi yang dapat diserap alam. Dan menjadikan lingkungan hangat.

Keempat, terpapar zat radioaktif dalam jumlah tertentu tak bermasalah bagi manusia. Bahkan, radiasi bisa berasal dari pelbagai sumber seperti batu di tanah, luar angkasa, dan prosedur medis rontgent.

Maksimum, paparan yang bisa ditolerir tubuh dengan dosis sebanyak 20 milisievert per tahun. Contoh lain ketika rontgent dada, itu akan melepaskan radiasi sebanyak 0,1 milisievert.

Meski banyak timbul pro dan kontra. Seperti apa pun bentuk dan jenis limbah, tetap merusak. Terlebih jika tidak dapat ditangani dengan cermat dan teliti. Lebih baik mencegah dari pada memperbaiki. (*)



Orang biasa yang sedang biasa-biasa saja

What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!