Memulai bisnis sejak tahun 1946, kini Tupperware dihadapkan oleh krisis finansial terbesar dalam sejarah perusahaan.
Contoh produk Tupperware (Foto: Pinterest)

Perusahaan wadah kedap udara asal Amerika Serikat, Tupperware terancam gulung tikar. Kabarnya, produk legendaris yang digandrungi ibu-ibu ini tengah diterpa badai finansial.

Melansir dari ABC News, dilaporkan bahwa perusahaan Tupperware mengalami penurunan nilai saham yang signifikan, yakni sebesar 84 persen sejak November tahun lalu. Bahkan pada Senin (10/4/2023) kehilangan nilai saham sebesar 50 persen.

Pelemahan nilai saham terbesar sepanjang masa ini ditaksir hingga nilai USD 1,22. Namun pada Selasa (11/4/2023) menguat sekitar 4,8 persen di nilai USD 1,3.

Melansir Liputan 6 dari Straits Times, para investor mulai ragu sebab Tupperware coba menyewa penasihat keuangan. Langkah ini diambil demi memulihkan struktur finansial dan keraguan mengenai kelangsungan operasional perusahaan.

Dalam beberapa tahun terakhir produk ramah lingkungan tersebut tengah berjuang mempertahankan relevansinya melawan produk pesaing. Namun tak membuahkan hasil yang indah.

Bahkan saham Tupperware terancam akan dihapus oleh New York Stock Exchange (NYSE). Usut punya usut, perusahaan ini tidak melaksanakan wajib lapor tahunan.

Terkait laporan keuangan tahunan perseroan, telah disampaikan juga dalam siaran pers. Bahwa ada pemberitahuan dari pihak NYSE kalau perusahaan tidak mematuhi 802,01E, buntut dari kegagalan mengajukan formulir 10-K sesuai agenda.

Sebagai informasi, laporan 10-K ini disampaikan secara langsung kepasa Securities and Exchange Commision (SEC), tidak dirancang untuk investor. Harapannya, dalam 30 hari kedepan dapat segera mengajukan formulir 10-K ke regulator SEC, namun tak ada jaminan kalau hal tersebut dapat tepat waktu. Mengingat pada pengajuan formulir sebelumnya, 12b-25 terkendala waktu untuk merampungkan formulir. Dikarenakan masih didapati beberapa kekurangan data terkait akuntansi untuk pajak penghasilan dan sewa.

Faktor lain pun disampaikan oleh Analis Ritel dan Direktur Pelaksana GlobalData Pengecer, Neil Saunders, penurunan jumlah penjualan turut menyumbang krisis keuangan.

"Penurunan tajam dalam jumlah penjual, penurunan konsumen pada produk rumah tangga, dan jenama yang masih belum sepenuhnya terhubung dengan konsumen yang lebih muda," ujarnya.

Segala upaya guna mencegah kemungkinan terburuk digencarkan. CEO Tupperware Brands Corporation, Miguel Fernandez, bersikeras mengatasi masalah yang mendera perusahaannya itu.

“Perusahaan melakukan segala daya untuk mengurangi dampak peristiwa baru-baru ini, dan kami mengambil tindakan segera untuk mencari pembiayaan tambahan dan mengatasi posisi keuangan kami," ucapnya.

Salah satunya yakni pemberlakuan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada para karyawannya dan meninjau portofolio real estatenya. Selain itu pihaknya juga sedang berusaha mencari investor baru.

Telah diketahui, bahwa perseroan menjalin kerjasama berupa peminjaman uang untuk jangka panjang sekitar USD 700 juta dengan Moelis&Company dan Kirkland&Ellis.

Jenama berusia 77 tahun tersebut perlahan melepaskan citra kokohnya. Lebih gemar mengincar konsumen yang relatif muda dalam menghadapi tantangan persaingan. Sementara permintaan produk rumah tangga kian menurun.

Masih dari Liputan 6, pada Maret 2023 pihak perusahaan melaporkan jumlah kerugian operasional mencapai USD 28,4 juta atau sekitar Rp. 421, 52 miliar. Turun dari periode tahun sebelumnya di angka USD 152,2 juta.

Diikuti oleh jumlah penjualan dan permintaan yang menurun sebesar 18 persen menjadi senilai USD 1,3 miliar atau sekitar Rp. 19,4 triliun. (*)

Pemasaran Tupperware di kalangan ibu-ibu (Foto: Pinterest)


Orang biasa yang sedang biasa-biasa saja

What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!