Perayaan hari raya sangat momentual bagi umat beragama di Bali tahun ini. Bertemunya dua hari suci dalam satu waktu.
Pelaksanaan Upacara Melasti menjelang Hari Raya Nyepi di Bali (Foto: kemenag_bali/instagram).

Umat Hindu di seluruh Indonesia tengah menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1945. Hari suci Umat Hindu ini berlangsung pada 22-23 Maret 2023.

Menariknya, perayaan ini bertepatan dengan awal pelaksanaan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan bagi umat Islam. Ini merupakan momen yang langka terjadi di Indonesia. Meski begitu kerukunan antar umat beragama di Bali sangat terjaga.

Nilai toleransi di Bali terbilang sangat tinggi, karena sangat menghargai perbedaan dan telah dolestarikan turun temurun.

Melansir dari tempo.co, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Nyoman Kenak, mengatakan bahwa pelaksanaan hari keagamaan Hindu yang bersamaan dengan agama lain, seperti puasa bulan Ramadhan bukanlah hal baru.

“Pelaksanaannya mengacu pada kesepakatan sebelumnya, tidak ada perubahan krusial. Melihat pelaksanaan sebelumnya yang lancar, sehingga pedoman itu yang menjadi rujukan,” kata Kenak.

Konsistensi lembaga umat lintas agama di Bali dalam menjaga kerukunan menciptakan suasana nyaman dan aman bagi semua umat beragama. Mengingat Indonesia merupakan negara yang multikultural.

Kenak mengapresiasi keteguhan hati seluruh majelis umat agama di Bali saling bergandengan tangan demi menjaga Pulau Dewata ini.

Selain bekerja sama dengan majelis umat beragama. PHDI Bali juga menyerahkan usulan pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang bertepatan dengan pelaksanaan Sholat Tarawih kepada Polisi Daerah (Polda) Bali.

Hal ini yang kemudian menjadi dasar kesepakatan bersama dalam teknis pelaksanaan Hari Raya Nyepi 2023.

Hari Nyepi, Aktivitas Masyarakat Berhenti

Seperti pelaksanaan Hari Raya Nyepi di tahun-tahun sebelumnya, suasana sepi dan tenang dirasakan oleh semua masyarakat Bali. Rutinitas harian masyarakat Bali dialihkan ke dalam rumah.

Suara bising dan polusi di jalanan seketika lenyap. Jalanan terasa lengang, digantikan dengan ketentraman dan ketenangan selama Hari Suci Nyepi berlangsung.

Bahkan, industri pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi di Bali istirahat sejenak. Namun, hotel dan fasilitas penginapan bagi para turis masih beroperasi, dengan protokol Hari Suci Nyepi. Aktivitas para pelancong juga dibatasi, untuk menghormati ibadah Umat Hindu ini.

Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Ida Bagus Purwa Sidemen, mengungkapkan terkait peraturan hotel dan restoran dengan menyesuaikan dengan situasi yang berlangsung di Bali.

“Tidak ada aktivitas bersifat kemeriahan di dalam hotel, karena di hotel pun mengikuti aturan Catur Brata Penyepian, disesuaikan dengan kondisi,” ujar Ida Bagus.

Tak hanya aktivitas pariwisata lokal, akses transportasi keluar-masuk Pulau Bali juga disesuaikan, bahkan ditutup selama 24 jam kedepan. Seperti penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, sejak Rabu (23/3/2023) mulai pukul 06.00 WITA sampai jam yang sama di hari Kamis (24/3/2023) seluruhnya akan diistirahatkan sementara.

“Seluruh dunia sudah tahu, ini (Nyepi) hal periodik, 24 jam tutup. Secara periodik kami sudah koordinasi.” kata General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Handy Heryudhitiawan. Mengutip detikbali.

Sama halnya dengan penerbangan di bandara I Gusti Ngurah Rai, pelayaran dan penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk juga sepenuhnya terhenti. Baik penyeberangan dari Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Ketapang, atau sebaliknya akan berhenti selama 24 jam.

“Pelabuhan Ketapang akan memberangkatkan kapal pertama pada pukul 03.00 WITA, sehingga pukul 06.00 WITA sudah sampai di Pelabuhan Gilimanuk untuk bongkar muat kendaraan.” kata General Manajer PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Muhammad Yasin. Masih mengutip detikbali.

Momen Spesial Masyarakat Bali

Peringatan Hari Suci Nyepi 2023 bertepatan dengan perayaan datangnya Bulan Suci Ramadhan 1444 Hijriah. Meski dalam niraktivitas saat Nyepi, Umat Islam di Bali masih bisa melangsungkan Sholat Tarawih, dengan catatan tidak boleh menggunakan suara keras serta yang dapat mengganggu ibadah Umat Hindu.

Pelaksanaan Sholat Tarawih berjamaah bisa dilaksanakan di masjid terdekat dengan berjalan dan tidak bergerombol, atau dilaksanakan di rumah masing-masing.

Kondisi ini telah dibahas bersama dan disepakati oleh Pemerintah Provinsi Bali beserta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Polda Bali, Korem 163/Wirastya, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Majelis-Majelis Agama dan instansi lainnya, pada Senin (13/3/2023) lalu.

“Umat Hindu melaksanakan Catur Bratha Panyepian dengan khidmat dan kusyuk. Umat Islam melaksanakan Sholat Tarawih di rumah masing-masing atau rumah ibadah terdekat dengan berjalan kaki, tidak menggunakan pengeras suara dan dengan menggunakan lampu penerangan yang terbatas," tulis seruan dalam kesepakatan berbagai instansi di Bali.

Kami segenap kru Ngepop.id mengucapkan Rahajeng Rahina Nyepi dan selamat menunaikan ibadah ibadah puasa Bulan Ramadhan. Semoga toleransi umat beragama Indonesia erat terjaga dan menjadi nilai luhur bangsa kita! (*)

 

 



Orang biasa yang sedang biasa-biasa saja

What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!