Sebelumnya, ratusan artefak masa kerajaan di Indonesia itu tersimpan baik di Nationaal Museum van Wereldculturen, Belanda.
Pengembalian ratusan artefak ke Indonesia oleh Belanda. (Foto: poroskalimantan/google)

Prosesi penandatanganan serah terima benda bersejarah ke pangkuan ibu pertiwi berlangsung di Museum Volkenkunde Leiden, Belanda, pada 10 Juli 2023 lalu.

Melansir Historia.id, dari pihak pemerintah Belanda diwakili oleh Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda, Gunay Uslu, dan ketua Comissie Koloniale Collecties, Lilian Gonçalves-Ho Kang You dari pihak Belanda.

Sementara delegasi pemerintah Indonesia diwakili oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid yang didampingi Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, yang diketuai I Gusti Agung Wesaka Puja.

Repatriasi ini bentuk dari realisasi Memorandum of Understanding (MoU) tentang proses teknis penyerahan benda-benda bersejarah yang disepakati kedua belah pihak pada 13 Februari 2017 lalu. MoU itu diperkuat dengan pengajuan dari pihak pemerintah Indonesia via surat resminya pada 1 Juli 2022.

Penyerahan artefak secara simbolis di Museum Volkenkunde Leiden, Belanda. (Foto: headtopic/google)

Prosesi simbolis ini turut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek, Fitra Arda.

"Hari ini serah terimanya dijadwalkan. Pak Dirjen di sana. Kita tunggu berita dari beliau," kata Fitra, mengutip Kaltim Post, pada 10 Juli 2023.

Tim repatriasi dibentuk oleh Direktorat Kebudayaan guna mendata benda bersejarah apa saja yang ada di museum tersebut. Alur perjalanan pulang benda tersebut turut dirancang oleh tim repatriasi.

Melansir Kaltim Post, menurut Fitra, pemulangan benda bersejarah dengan jumlah yang banyak ini tidak bisa sembarangan. Ada serangkaian prosedur dan syarat khusus, seperti jaminan keamanan hingga asuransi. 

Selain itu, persinggahan sementara artefak itu akan ditempatkan di Museum Nasional, untuk sementara waktu. 

Fitra menjelaskan bahwa penanganan dan perawatan selama di Museum Nasional akan laksanakan oleh tim koordinasi UPT Museum dan Cagar Budaya.

Benda Apa Saja yang Dikembalikan?

Melansir Tirto.id, berdasarkan pengunguman yang disampaikan pemerintah Belanda, total ada 478 artefak yang direpatriasi. 

Benda-benda bersejarah tersebut diambil dalam rentan waktu 1816–1941 (Indonesia) dan 1658–1796 (Sri Lanka).

Dari jumlah keseluruhan, benda milik Indonesia berjumlah 472. Sedangkan milik Sri Lanka berjumlah 6.

Terdiri dari 335 barang emas dan perak yang dijarah oleh pasukan Belanda pada Perang Lombok tahun 1894, empat patung peninggalan kerajaan Jawa kuno Singasari, sebuah keris tradisional Kerajaan Klungkung, dan 132 karya seni dari Bali yang dikenal dengan koleksi Pita Maha. 

Melansir Kaltim Post, harta karun Lombok merupakan benda-benda yang dijarah selama Ekspedisi Lombok (1894) yang dikenal sebagai Lombokschat di Negeri van Oranje. Harta karun ini meliputi berbagai objek. Antara lain seperti, benda logam hias, perhiasan, tekstil, keris, dan berbagai benda hias, termasuk perak dan emas. Seluruh benda tersebut dijarah saat terjadi Perang Lombok yang dilancarkan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).

Melansir Historia.id, masih terdapat empat artefak yang belum akan dikembalikan. Diantarnya adalah tali kekang milik Pangeran Diponegoro, Al-Quran milik Teuku Umar, koleksi fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus/Homo Erectus (Manusia Jawa) temuan Eugène Dubois, dan regalia Kerajaan Luwu.

Sementara enam artefak lain milik Sri Lanka, termasuk meriam berdekorasi mewah yang dijarah dari Istana Kandy di Sri Lanka pada tahun 1765.

Bertujuan Menjalin Hubungan Baik

Tidak hanya artefak milik Indonesia, pemerintah Belanda juga mengembalikan rampasan benda bersejarah dari Sri Lanka.

Langkah repatriasi ini dimaksudkan untuk memulihkan warisan budaya jajahannya di masa lampau. 

Selain itu juga demi terjaganya hubungan baik dengan negara bekas jajahannya, terutama di benua Afrika dan Asia.

Sejak bulan lalu, secara terbuka Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengakui sepenuhnya kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Diketahui sebelumnya, bahwa pemerintah Belanda bersikeras menyatakan kemerdekaan Indonesia diperoleh pada tahun 1949.

Beriringan dengan pengakuan tersebut, Mark mewakili penjajahan pasukan Belanda di masa lalu, untuk meminta maaf atas apa yang telah terjadi.

Selain itu, Raja Belanda, Willem-Alexander, secara terbuka juga meminta maaf atas perlakuan nenek moyangnya yang meraup keuntungan atas perbudakan selama masa kolonial. Khususnya di daerah Suriname dan bekas jajahan Belanda di Kepulauan Karibia. (*)



Orang biasa yang sedang biasa-biasa saja

What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!