Tindakan melukai diri atau self harm kerap terjadi pada orang-orang sekitar kita. Ada apa sebenarnya?
Ilustrasi melukai diri sendiri atau self harm. (Foto: iStockphoto)

Tindakan melukai diri atau self harm telah menjadi perhatian yang semakin mendalam dalam konteks kesehatan mental remaja. Staf Divisi Psikoterapi Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, dr. Petrin Redayani Lukman, Sp.KJ (K), M.PDKed, menyatakan bahwa tindakan tersebut dapat menjadi salah satu gejala gangguan kepribadian dan depresi.

Melansir Antara, menurut dr. Petrin, self harm bisa menjadi cara seseorang mencoba mengatasi perasaan tidak nyaman, emosi yang sangat bergejolak, dan ketidakmampuan untuk mengelola atau mengungkapkan perasaan mereka. Seseorang yang melukai diri juga sering merasa hampa dan tidak nyaman secara berkelanjutan. Ini adalah pengalaman yang sangat tidak menyenangkan, dan self-harm menjadi cara untuk mengalihkan perasaan tidak enak ini dengan merusak diri sendiri, seperti melalui tindakan seperti "cutting."

Petrin menjelaskan bahwa dalam penanganan self-harm, psikoterapi seringkali menjadi pilihan utama. Melalui proses ini, dokter akan membantu pasien untuk lebih memahami perasaan mereka dan mengembangkan kemampuan untuk mengatasi emosi mereka dengan cara yang lebih sehat. Proses ini bisa memakan waktu lama, tergantung pada kondisi masing-masing individu, bisa berlangsung hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Ilustrasi melukai diri sendiri. (Foto: orami.com)

Selain psikoterapi, dokter juga dapat memberikan obat-obatan tertentu sebagai bagian dari perawatan yang diperlukan. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak ada solusi instan untuk masalah self-harm, dan pemulihan memerlukan kesabaran dan dukungan yang berkelanjutan.

Dalam konteks tindakan seperti menghentikan laju truk yang pernah viral beberapa waktu lalu, dr. Petrin menggarisbawahi perlunya memahami motif di balik perilaku remaja tersebut. Tindakan semacam ini bisa jadi sekadar eksperimen atau upaya untuk mencari perhatian, tetapi juga bisa menjadi indikasi adanya masalah yang lebih dalam, seperti depresi. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengeksplorasi alasan di balik perilaku tersebut dan memberikan bantuan yang sesuai.

Petrin juga menekankan pentingnya bagi remaja untuk membentuk identitas dan mengaktualisasikan diri mereka dengan cara yang positif. Dengan mengembangkan keterampilan sosial, emosi, dan kemampuan untuk mengatasi tekanan, remaja dapat menghindari perilaku berisiko seperti menghentikan truk atau tindakan lain yang dapat membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain.

Dalam mengatasi masalah kesehatan mental remaja, dukungan dari keluarga, teman, dan profesional kesehatan mental sangat penting. Semakin dini masalah ini diidentifikasi dan ditangani, semakin baik peluang pemulihan bagi remaja yang terlibat dalam perilaku berisiko atau self harm. (*)



What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!