Hidup senang merupakan kebutuhan rohani yang mesti dikelola dengan bijak.
Ilustrasi. Bersenang-senang tanpa berhutang. (Foto: Red Bank Taste via Okezone)

Bersenang-senang merupakan kebutuhan rohani yang penting bagi kita semua. Saat kita merasa lelah setelah menjalani rutinitas harian yang padat, bersenang-senang dapat menjadi obat yang ampuh.

Namun, perlu diingat bahwa tanpa kemampuan mengendalikan diri, kegiatan bersenang-senang bisa berakhir dengan tagihan utang yang menumpuk. Sebenarnya, melansir Antara, kita bisa membiayai gaya hidup kita tanpa harus terjebak dalam utang yang mengganggu.

Menikmati Hidup dengan Kemampuan Finansial Sendiri

Tidak perlu menjadi orang kaya untuk bisa hidup dengan senang. Kesenangan sejati dapat diciptakan dengan versi kita sendiri, yang sesuai dengan kemampuan finansial yang kita miliki. Masalah sering muncul ketika kita mencoba meniru gaya hidup orang lain tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan kita sendiri.

Mengendalikan Pengeluaran

Saat kita ingin bersenang-senang, penting untuk melihat sejumlah dana yang kita miliki. Jangan mencoba membuat uang ada dengan cara yang tidak sehat atau bahkan dengan berutang. Penggunaan kartu kredit dan metode pembayaran tunda (pay later) bisa menjadi contoh cara berutang yang terlihat elegan, namun pada dasarnya tetap saja itu adalah utang yang harus kita bayar di masa depan. Oleh karena itu, utang dengan segala bentuk dan modelnya tidak bijaksana jika digunakan hanya untuk memenuhi keinginan sementara yang bersifat kesenangan semata.

Menetapkan Anggaran untuk Rekreasi

Contoh yang sering terjadi adalah saat seseorang membeli tiket konser musik dengan harga fantastis tanpa memperhitungkan pendapatan mereka. Sejumlah ahli perencanaan keuangan menyarankan agar anggaran rekreasi kita sekitar 5-10 persen dari total penghasilan bulanan. Mari kita berhitung apakah kita mampu untuk menghabiskan puluhan juta rupiah hanya untuk acara hiburan?

Bersenang-senang adalah kebutuhan yang wajar, tetapi kita harus bijak dalam mengatur keuangan kita. Hidup dengan kemampuan finansial sendiri adalah langkah yang tepat untuk menghindari utang yang berlebihan.

Mengendalikan pengeluaran dan menetapkan anggaran rekreasi yang sesuai dengan pendapatan kita akan membantu kita hidup dengan lebih bijaksana dan tetap bisa bersenang-senang tanpa harus menimbulkan masalah keuangan di masa depan. Jadi, mari kita nikmati hidup dengan penuh kesadaran finansial dan bijak dalam setiap pilihan yang kita buat. 

Rumus pengelolaan keuangan

Berapa pun besarnya penghasilan Anda bila tidak dikelola dengan tertib bisa berdampak pada kebangkrutan. Pengelolaan menjadi kunci keberlangsungan dan kesehatan keuangan seseorang atau sebuah keluarga.

Menurut ahli perencanaan keuangan, Eric Roberge, CFP, mengelola penghasilan bisa dilakukan dengan fleksibel karena keuangan tiap orang berbeda.

“Kuncinya adalah mengambil tindakan dan menggunakan sistem untuk membantu Anda tetap konsisten dalam mengelola uang setiap bulan, dan memastikan Anda dapat mengatur pengeluaran, bisa menabung untuk esok, dan memberi Anda ruang untuk menikmati hidup hari ini, “ kata pendiri Beyond Your Hammock, perusahaan perencanaan keuangan virtual asal Boston, AS itu.

Selaras dengan itu, Direktur PT Panin Asset Management yang juga penulis buku investasi, Rudiyanto, melalui blognya membagikan rumus 10 – 20 – 30 – 40 dalam pengelolaan keuangan.

Adapun jabaran dari komposisi angka-angka di atas adalah:

10 persen – Kebaikan

Berapa pun penghasilan Anda -- besar atau kecil -- usahakanlah untuk selalu berbuat kebaikan. Definisi berbuat kebaikan amat luas, tidak terbatas hanya pada memberikan donasi di tempat ibadah, tapi juga hal lain seperti berbakti kepada orang tua dan memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan.

20 persen – Masa depan

Termasuk di dalamnya anggaran untuk asuransi, investasi, dan dana darurat. Dalam konteks keuangan, persiapan untuk masa depan mencakup dana darurat, asuransi jiwa dan kesehatan, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana untuk uang muka rumah (bagi yang belum memiliki), mengembangkan kekayaan, dan dana untuk berbagai tujuan keuangan lainnya.

30 persen – Cicilan produktif

Sepanjang utang dan cicilan yang Anda miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif, menunjang pekerjaan, dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30 persen dari penghasilan, maka masih bisa dikatakan wajar. Contohnya, cicilan rumah, kendaraan, atau peralatan untuk kebutuhan wajib. Untuk rumah dengan status sewa juga bisa dimasukkan dalam alokasi ini.

40 persen – Kebutuhan hidup

Persentase ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk biaya makan, minum, transportasi, tagihan listrik, air, telepon, pulsa telepon, langganan televisi, keanggotaan olahraga, hobi, pakaian, rekreasi dan sebagainya. Semua yang sifatnya kebutuhan pokok sampai gaya hidup bisa dimasukkan dalam alokasi ini.

Bila telah menerapkan skema tersebut namun masih mengalami defisit, maka wajib ada perbaikan pendapatan.

Yang terlarang

Tekor, terlilit utang, atau dikejar-kejar debt collector merupakan kasus yang banyak terjadi di tengah masyarakat. Menjadi ironis bila hal itu ditimbulkan akibat pembiayaan gaya hidup dan membeli gengsi. Biaya gaya hidup masih relatif bisa dihitung dan dianggarkan, namun manakala sudah dirasuki unsur gengsi maka tidak bisa diukur berapa jumlah uang yang dibutuhkan untuk menjangkau itu.

Sebelum Anda mengalami keruntuhan ekonomi, beberapa hal berikut sebaiknya dihindari:

1. Update

Gawai, perangkat elektronik, dan kendaraan adalah barang-barang yang memang perlu diperbarui secara berkala ketika terjadi kerusakan atau turunnya performa fungsionalnya. Artinya, membeli atau memperbarui barang-barang tersebut haruslah atas alasan urgensi bukan gengsi, dan titik tekannya terletak pada fungsi.

Keinginan untuk selalu update ponsel, kendaraan, atau barang elektronik hanya karena perusahaan telah merilis versi terbarunya, dijamin tidak akan ada habisnya. Masyarakat dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah bisa dipastikan akan berangkat menuju kebangkrutan bila berperilaku demikian.

2. Membanding-bandingkan

Gemar melirik harta benda tetangga atau rekan-rekan kerja lalu membandingkan dengan yang dimiliki, kemudian merasa iri dan ingin menyaingi merupakan cikal-bakal perilaku konsumtif yang kelak sulit dihentikan.

Orang yang selalu menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain akan terjebak pada perlombaan tidak sehat dan bersifat terus-menerus bahkan bisa berurusan dengan pinjol (pinjaman online) atau jenis utang lainnya demi memenangi persaingan itu.

3. Pengabdi gengsi

Tidak perlu mengabdi pada gengsi apalagi jika harta Anda masih bisa dihitung atau tidak tak terbatas. Harga sebuah gengsi amatlah mahal untuk orang yang masih hidup dengan gaji, dari bulan ke bulan berikutnya.

Ambisi untuk meraih gengsi akan menghilangkan kesadaran seseorang dalam membelanjakan uangnya dengan kadar yang tidak wajar. Gengsi yang berkerabat dekat dengan kebutuhan akan pengakuan dapat membuat orang mengerahkan segala upaya untuk membiayai gaya hidup agar bisa “seperti orang-orang”.

Versi sendiri

Setiap individu memiliki kemampuan finansial sendiri yang tentu berbeda dengan daya beli orang lain. Karenanya, jangan sekali-kali berkiblat pada orang lain dalam hal gaya hidup utamanya kebutuhan rekreasi.

Rekreasi atau bersenang-senang pada umumnya bisa berupa tamasya (travelling), wisata belanja dan kuliner, menonton acara hiburan, juga perawatan diri dapat dimasukkan dalam kategori ini.

Meski bagian dari kebutuhan rohani, dari skala prioritas rekreasi menempati urutan terbawah setelah dipenuhinya berbagai kebutuhan wajib yang lebih penting. Porsi alokasi dananya pun relatif kecil -- menurut rumus pengelolaan keuangan -- yakni tidak lebih dari 10 persen penghasilan. (*)

*Artikel telah tayang di Antara



What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!