Dari film layar lebar "KKN di Desa Penari" hingga film pendek, film-film ini sukses menggebrak bioskop mal terbesar di Swiss.

Sekitar 5 film karya anak bangsa, yang terdiri dari 2 film layar lebar dan 3 film pendek dari program "Festival Film Bulanan" yang digaungkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berhasil tabrak dinding kemustahilan untuk berkancah secara internasional melalui pemutaran di Bioskop Pathe Balexert, mal terbesar di Jenewa, Swiss.

Dilansir dari postingan Instagram @kemenparekraf yang diunggah pada rabu (04/09/2023), film KKN di Desa Penari dan Onde Mande turut ikut serta dalam program ini, sementara film pendek lainnya berjudul Romansa di Balik Pagar Akal (2022), Maulid Adat Bayan (2021), Pepadu (2021).

Keberhasilan ini merupakan upaya Pemerintah Indonesia untuk mendorong perkembangan industri film di Indonesia agar terus maju dan memberikan kontribusi besar di kancah Internasional.

"Saya optimis ke depannya perfilman Indonesia dapat terus memberikan prestasi yang baik, dan semoga lewat industri film semakin banyak peluang usaha dan kerja tercipta." ujar Menparekraf Sandiaga Uno via postingan Instagram @kemenparekraf.

Tapi, ada yang sangat menarik perhatian dari beberapa film ini, yakni film pendek berjudul Romansa di Balik Pagar Akal (2022).

Film ini merupakan besutan rumah produksi Hura Haru Film dan Mois Creative.

Mengangkat salah satu isu sosial yang jarang dibicarakan oleh banyak orang dengan menghidangkan bumbu asmara sepasang ODGJ.

Bercerita tentang Surisniati atau akrab dipanggil Pia, merupakan eks ODGJ yang dinyatakan sembuh meski belum 100%

Pia memutuskan untuk menikah dengan Abdulla yang juga merupakan eks ODGK dengan vonis serupa.

Tawa, tangis mereka menggambarkan sebuah sisi, dimana ODGJ merupakan insan yang memiliki nurani dan kasih.

Zidni Rizky saat proses pembuatan film Romansa di Balik Pagar Akal

Zidni Rizky, produser film ini mengaku sangat bersyukur dan berharap industri film di Indonesia serta sumber daya manusia-nya turut maju, sehingga akan memberikan dampak positif dalam motivasi pembuatan film karya anak bangsa.

"Semoga film Indonesia, kedepannya bakal terus berkembang, sumber manusianya juga, sumber daya finansialnya juga." syukur dan harapan Zidni.

"Semoga (Perkembangan industri film) terus saling mendukung, sehingga kita sebagai pelaku film bisa lebih giat atau bisa memproduksi karya-karya yang lebih baik." imbuhnya.

Adapun, Kahfi Karsadinata selaku Creative Director dari Mois Creative menambahkan alasan-nya membuat film ini.

Kahfi Karsadinata (Paling kiri membawa kamera) dalam proses pembuatan film.

"Kita berharap dari film ini, orang melihat perspektif lain dari cinta dan juga kesadaran masyarakat luas terhadap kesehatan mental atau masalah kejiwaan, serta tempat mereka untuk tetap mendapatkan cinta di dunia." ujar Kahfi.

Misi kedepannya, Zidni dan Kahfi ingin lebih menggebrak industri perfilman Indonesia lewat projek-projek film yang akan dibuatnya.

"Tahun depan, kita (rencana) bikin film, namanya Pataruman, itu backgroundnya tahun 1990-an dan telah diriset sama Zidni selama 2 tahun. Ini bakal jadi film action-colosal yang terinspirasi dari kisah nyata." ujar Kahfi.

"Dengan ini, kita berharap film Indonesia jauh lebih berwarna terutama dalam sisi sejarah Indonesia yang kaya. Dan menyadari bahwa Indonesia punya banyak budaya dan keberagamannya." imbuhnya.

Instagram @kemenparekraf


What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!