Ajeng Canyarasmi, perempuan asal Bandung, Indonesia yang sukses berkarier sebagai sound designer kelas dunia.
Ajeng Canayarasmi, sound designer asal Indonesia. (Foto: Dok. Pribadi via TIMES Indonesia)

Ajeng Canyarasmi, seorang perempuan kelahiran Bandung pada 11 Mei 1992, memiliki impian besar yang mengantarkannya pada sebuah karir cemerlang di dunia perfilman. Ia telah mengukir namanya di dunia perfilman internasional sebagai seorang sound designer dan re-reording mixer, mewakili Indonesia dengan keahliannya. Bagaimana kisah perjalanan luar biasa Ajeng Canyarasmi menjadi sound designer kelas dunia?

Pendidikan di ITB dan USC School of Cinematic Arts

Ajeng, yang akrab disapa Ajeng, adalah lulusan Fakultas Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia memulai perjalanannya di dunia sound designing dan re-reording mixing dengan belajar di University of Southern California School of Cinematic Arts, yang merupakan salah satu sekolah film tertua di Amerika Serikat. Ajeng berhasil meraih gelar Master of Fine Arts (MFA) dengan indeks prestasi yang hampir sempurna. Meskipun awalnya bercita-cita menjadi sutradara, Ajeng mengikuti hasratnya untuk mengasah keahliannya di bidang sound designing dan re-reording mixing.

Sound Designing: Seni di Balik Layar

Ajeng menjelaskan bahwa film adalah karya seni yang membutuhkan kolaborasi dari berbagai aspek, termasuk sutradara, akting, desain set, sinematografi, efek spesial, penyuntingan gambar, rekaman suara, desain dan penyuntingan suara, serta rekam-ulang suara.

Sebagai seorang sound designer, Ajeng telah memenangkan sejumlah penghargaan dalam berbagai kategori, termasuk animasi, drama, mini seri, sci-fi, horor, dan lainnya di festival film di Amerika Serikat dan negara lain.

Selain prestasinya di festival film, Ajeng juga pernah bekerja sebagai sound designer dan re-reording mixer untuk beberapa film Hollywood, di antaranya Trilogi Lord of The Rings, A Quiet Place, World War Z, Planet of The Apes, dan Kung Fu Panda. 

“Saya juga berkolaborasi dengan orang-orang yang bekerja di studio besar seperti Warner Bros, Disney, 20th Century Fox, Skywalker Sound, Pixar, dan HBO,” terangnya.

Konsistensi dalam Belajar dan Berkarya

Ajeng Canyarasmi terus belajar dan berkarya di dunia sound designing. Ia mengambil inspirasi dari sound designer terkenal seperti Stephen Flick, yang telah meraih berbagai penghargaan, seperti Speed dan Robocop.

Salah satu proyek penting dalam karier Ajeng adalah Perfectly Natural (2018), sebuah film pendek fiksi ilmiah dystopian yang disutradarai oleh Victor Alonso-Berbel. Proyek ini menantangnya untuk merancang suara rumah pintar masa depan bagi keluarga kelas pekerja, menciptakan sentuhan teknologi yang sonik di tengah lingkungan yang dilingkupi alam.

Ajeng yang telah menyaksikan ratusan film, merasa bahwa suara yang menjadi bagian dari film kerap terlupakan atau dinomorduakan. Pun, tidak banyak orang yang ingin bekerja di bidang suara dalam insutri film.

Namun, ia melihat pentingnya efek-efek suara yang teliti dalam membuat adegan menjadi lebih hidup dan nyata.

“Inilah yang membuat saya jatuh hati dengan desain suara dan rekam-ulang suara di paska produksi film. Pekerjaan yang sepertinya kecil dan remeh, tapi kalau dilakukan dengan teliti dan rapi dapat membuat film menjadi lebih hidup,” tuturnya, dikutip dari TIMES Indonesia

Pelajaran Hidup dari Bekerja di Perfilman

Dalam pengalamannya di dunia perfilman, Ajeng Canyarasmi telah belajar bahwa kesabaran dan ketekunan adalah kunci sukses.

“Semua akan terjadi pada waktunya, jadi belajar bersabar dan tekun adalah hal yang baik,” kata Ajeng.

Ia juga menyadari tantangan dari perubahan dalam industri film, seperti munculnya media streaming dan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI).

“Kalau sabar sambil terus tekun belajar dan bekerja, mau nggak mau kamu akan lebih baik daripada kamu yang sebelumnya, termasuk di sound design,” kata perempuan yang memiliki hobi menari itu.

Impian Ajeng sebagai Sound Designer

Menurut Ajeng, untuk bisa mencapai sukses di bidang sound design, dibutuhkan lebih dari sekadar bakat seni. Konsistensi dalam kerja dan pengalaman sangat penting. Selain itu, reputasi baik dalam industri film juga merupakan faktor kunci.

Di masa depan Ajeng ingin konsisten berkarya di Hollywood. Ia berharap suatu hari bisa meniti karier mengedit, mendesain suara, atau merekam ulang suara (re-recording mix) karya film yang lebih besar di studio Hollywood.

Ia berharap suatu hari setelah pensiun, membangun sekolah film di Indonesia. "Aku punya impian membangun sekolah film di Indonesia untuk semua yang bener- bener ingin belajar film,” ucapnya. (*)



What's your reaction?

Comments

https://ngepop.id/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!